Hai semuanya gue mau curhat lagi nih’,, kali ini gue mau curhat tentang perasaan cinta gue yang tak tersampaikan kepada seorang anak perempuan di kampus. Gue bingung harus bagaimana untuk menyatakan perasaan suka gue ini dikarenakan adanya perbedaan diantara gue dan sih dia,, dari awal masuk kuliah semester pertama sampai dengan berakhirnya semester empat ini tak terasa hampir 2 tahun gue satu sekelas dengan nya,, suka sekaligus benci begitulah yang gue rasakan selama ini dengan dirinya, ketika perkuliahan dimulai dia selalu duduk di bangku paling depan dan gue selalu duduk di bangku belakang tak jauh dari dirinya,,,, sesekali gue memperhatikan dirinya dari belakang, memandang raut wajahnya yang sedang serius belajar namun terkadang gue sangat benci serta kesal dengan sih dia karena dia itu pelit nya minta ampun -_-,, tak mau berbagi segala sesuatu yang dia ketahui tentang perkuliahan terhadap orang lain,teman satu kelasnya bahkan teman dekatnya sendiri,,, walaupun begitu setiap kali gue melihat raut wajahnya yang mirip salah tokoh di kartun Upin ipin yaitu Mei-mei ^_^,, hati gue merasakan sesuatu hal yang aneh yang memberontak setiap saat jika melihat dirinya,, sesuatu perasaan yang sulit untuk dikatakan serta diungkapkan yang sudah begitu lama tak gue rasakan kembali.
Mungkin bagi dirinya gue hanyalah seseorang yang satu kelas
dan satu jurusan dengannya, seorang anak lelaki yang biasa-biasa saja tak
pernah menonjolkan prestasi atau kelebihannya dikelas bahkan mungkin dia
menggangap bahwa gue ini adalah seseorang yang aneh seperti pandangan sebagian
orang lain terhadap gue-_-, terkadang gue merasa lucu,jijik,serta bingung
terhadap perasaan suka ini =_=, kenapa gue harus suka sama seseorang wanita
sombong,matrek dan terlebih lagi pelitnya tidak tertolong, setiap hari gue
selalu bertanya-tanya pada diri gue sendiri mengapa gue harus suka dengan
dirinya bahkan dalam tidur pun gue sampai 3 kali bermimpi tentang dirinya+_+. Logika gue selalu berontak!!!
logika gue selalu berkata “apa loe bodoh menyukai
perempuan yang sifatnya jelek seperti itu bahkan loe sendiri membencinya dan
lagi jika loe mengungkapkan perasaan sukamu kepadanya yang ada hanya akan
menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan, jangan melakukan hal yang sia-sia
tak berguna masih banyak yang lebih baik darinya.” jika di pikir-pikir secara mendalam perkataan
logika gue itu ada benarnya dan gue pun terkadang menuruti logika gue sendiri
untuk berusaha melupakan semua tentang dirinya segala cara gue lakukan untuk
membunuh perasaan suka ini bahkan sampai dengan cara membencinya secara
mendalam namun hal yang seperti itu hanya membuat diriku semakin tak berdaya
setiap kali jika bertemu dengannya gue tak bisa membunuh perasaan cinta ini
malahan semakin bertambah besar serta hati gue semakin memberontak dengan
mengatakan”bagaimana
pun kamu menyukainya dan menyanyanginya tak bisa seterusnya dirimu berbohong
seperti ini, kamu harus bilang kepada dirinya bahwa kamu begitu menyukai dan
menyanyanginya”, mendengar perkataan dari hati tersebut gue jadi
bertambah bingung gue tak bisa melakukan apa-apa hari demi hari yang gue
lakukan hanya menyimpan dan memendamnya secara terus menerus tanpa melalukan
sesuatu hal yang berarti untuk memberitahukannya bahwa gue begitu menderita
menyimpan rasa suka ini,, gue tak tahu harus menuruti dan mempercayai logika
atau hati karena keduanya memberikan pernyataan yang memiliki tingkat kebenaran
masing-masing sehingga membuatku takut melangkah dan memilih berdiam diri
membeku menjalani kehidupan di kampus.
Hari demi hari berganti sepanjang waktu hingga berhenti di
satu titik dimana ada seseorang anak lelaki lain yang mendekatinya dan berhasil
merenggut hatinya, mengetahui hal tersebut hati gue begitu sedih dan sakit
namun gue terus menyembunyikannya dengan senyum tawa yang sebenarnya justru
membuat sakit, walaupun begitu gue tetap menunggunya, menunggu dirinya putus
dengan anak lelaki kamprettt tersebut,, hingga sampai kepada perkuliahan
semester keempat gue terus bersabar menunggu hal yang sia-sia tak berujung
namun sepertinya tak ada perubahan bahkan mereka berdua malah bertambah mesra
dengan memamerkan kemesraannya di depan orang banyak,, melihat hal tersebut di
depan mata kepala sendiri membuat gue sangat terluka dan pada akhirnya gue
memutuskan untuk menuruti dan mempercayai apa yang dikatakan oleh logika
sehingga harus mengakhiri perasaan yang tak terbalaskan ini dengan cara
berpisah dengan dirinya yaitu pindah jadwal kuliah pagi sehingga gue tidak
bakalan bertemu dan melihat wajahnya lagi mungkin untuk selamanya, mungkin
dengan cara begitulah gue dapat melupakannya dan menghilangkan perasaan cinta
yang sia-sia ini.

0 komentar:
Posting Komentar